makam tan malaka dibongkar

Posted in | 0 komentar

Pemuda Misterius di Sebelah Bung Karno

SEORANG pemuda yang mengenakan helm coklat, berjalan di sebelah Sukarno menuju Lapangan Ikada 19 September 1945. Keduanya berjalan bersama rombongan pemuda yang membawa bambu runcing untuk menggelar pertemuan di Lapangan Ikada. Peristiwa itu dikenal sebagai rapat akbar di Lapangan Ikada.

Rapat akbar karena desakan pemuda itu digelar sebagai demonstrasi untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka. Karena proklamasi kemerdekaan sendiri sebulan sebelumnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena takut diserang Jepang.

Pemuda yang berjalan di sebelah Sukarno itu selama ini tak dikenal, hanya dianggap sebagai pemuda yang mengawal Sukarno. Ternyata pemuda itu adalah Tan Malaka.

Karena saat itu tidak banyak yang menyadari Tan Malaka telah kembali ke Indonesia setelah mengembara di berbagai negara selama 30 tahun. Harry A.Poeze berhasil mengidentifikasi Tan Malaka yang berjalan di sebelah Sukarno.

"Ini Tan Malaka yang berjalan dengan Sukarno, karena Tan Malaka itu tingginya setelinga Sukarno, dan saya juga mendapatkan salah satu foto Tan Malaka yang mengenakan helm," kata Harry A Poeze sambil menunjuk foto lain Tan Malaka memakai helm coklat yang sedang tertawa.

Dalam foto menuju lapangan Ikada itu juga terlihat Tan Malaka berjalan di belakang Sukarno dan Hatta. Ini menjawab teka-teki selama ini, apakah Tan Malaka hadir dalam rapat itu.

"Ini juga bukti, Tan Malaka berperan besar dalam rapat itu yang meruncingkan perlawanan kepada Jepang," kata Harry.

Menurut Harry A Poeze dalam riwayat hidup Tan Malaka mungkin hanya ada 30 sampai 40 foto, karena gaya hidupnya yang selalu berpindah melintasi beberapa negara dengan banyak nama samaran untuk menghindar kejaran intel dan tentara kolonial.

Harry Poeze mendapatkan foto-foto dari surat kabar lama dan majalah lama, salah satunya foto Tan Malaka muda yang sedang berpose memegang buku dengan potongan rambut di dahi yang belah tengah. Foto itu dibuat saat Tan Malaka baru sampai di Belanda dan foto itu dikirimnya ke kampung halamannya.

Ada juga foto resmi Tan Malaka di sekolah Rijkskweekschool, Belanda dengan pakaian yang sangat necis dan mengenakan topi. Foto ini juga dikirim ke kampung halamannya.

Di Belanda Tan Malaka ikut kesebelasan sepakbola yang kuat, terlihat di foto Tan Malaka bersama teman-teman kesebelasannya. Ia amat mudah dikenali karena kulitnya yang lebih gelap. Selain itu Tan Malaka juga ikut orkestra dan memainkan biola. Dalam foto itu Tan Malaka berada di sudut kanan dan nyaris terpotong.

Ada juga foto Tan Malaka bersama perwakilan partai komunis di berbagai negara, saat ikut kongres partai komunis sedunia pada 1922 di Moskow. Setelah kongres itu, Tan Malaka dikirim partai komunis Rusia ke Asia Tenggara untuk mendirikan partai komunis untuk melawan penjajahan barat.

Setelah itu Tan Malaka selalu diburu polisi rahasia dari Hindia Belanda, Inggris, dan Amerika. Ia harus bersembunyi terus di Muangthai, Hongkong, Filipina, Cina, dengan banyak nama samaran.

Ada foto yang menunjukkan Tan Malaka ditahan polisi di Filipina pada 1927. Waktu itu Filipina dijajah Amerika. Tan Malaka terlihat dikawal polisi Filipina ke ruang pengadilan dan foto Tan Malaka sedang diadili. Foto ini didapat Harry Poeze dari surat kabar lama Filipina, karena itu kualitasnya buruk.

Belakangan Tan Malaka memutuskan hubungan dengan kegiatan komunis dan putus pula hubungan dengan Moskow, Tan Malaka lalu membentuk PARI, Partai Republik Indonesia. Namun karena masih pergi ke sana kemari, Tan Malaka tertangkap polisi Hongkong.

Polisi juga membuat sebuah foto resmi pada 1932 dengan wajah Tan Malaka dan sebuah cermin di sampingnya yang menampakkan raut wajah dari samping. (Ditulis oleh febrianti di padangkini.com)

Posted in | 1 komentar

Sosok Tan Malaka Dari Balik Lemari

PADA pagi yang masih berkabut di Bukittinggi, kami bersiap berangkat mengunjungi rumah Tan Malaka di Pandan Gadang, Limapuluh Kota, sekitar 80 kilometer ke arah utara Bukittinggi.

Saya duduk di sebelah sejarawan Belanda Harry A. Poeze, seorang peneliti yang mencurahkan waktu selama 30 tahun untuk Tan Malaka. Teman seperjalanan lainnya adalah Zulhasril Nasir, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Roger Tol, direktur KITLV Jakarta dan Eri Ray, seniman Padang yang kami tumpangi mobilnya.

Sementara di belakang, dengan bus pariwisata, ada 28 peserta lain yang akan mengunjungi rumah Tan Malaka, di antaranya sejarawan Mestika Zed, mahasiswa sejarah, mahasiswa seni, dan guru. Keluarga Tan Malaka memperingati 59 tahun kematian pejuang revolusioner itu tepat 21 Februari lalu.

Mobil dan bus mulai beriringan keluar dari halaman hotel tempat kami menginap. Tiba-tiba Harry Poeze berkata kepada Eri Ray.

"Bisakah kita sebentar ke sekolah Tan Malaka, saya ingin melihat lagi sekolah itu dan ambil beberapa gambar," katanya.

Mobil berbelok ke SMA Negeri 2 Bukittinggi, sementara bus terus melanjutkan perjalanan ke Pandan Gadang. Gedung sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School masih kokoh berdiri, kini berubah menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi.

Dulunya sekolah ini juga dinamai Sekolah Raja, karena hanya anak-anak Belanda dan anak bangsawan pribumi atau anak orang kaya yang bisa bersekolah di tempat ini, salah satunya Tan Malaka.

Tan Malaka sekolah di Kweek School selama enam tahun dan lulus dengan nilai baik, karena dia anak terpintar dari semua teman sekolahnya. Ia lalu melanjutkan sekolahnya ke Belanda.

Harry A. Poeze turun dan memeriksa dinding ruang guru mencari-cari sesuatu.

"Saya mencari prasasti sekolah ini dan prasasti yang menerangkan tentang Nawawi Sutan Makmur yang pernah menjadi satu-satunya guru pribumi di tempat ini," kata Harry.

Prasasti yang dicari-cari akhirnya ketemu. Prasasti yang menempel di dinding yang menerangkan pendirian Kweek School tahun 1873-1908. Sementara itu satu prasasti lagi yang menerangkan tentang Engku Nawawai Sutan Makmur yang pernah menjadi guru di Kweek School tersembunyi di balik lemari.

Melihat itu, Zulhasril Nasir, penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau geleng-geleng kepala.

"Ini aset lho Pak Guru, kok malah ada di balik lemari, harusnya kita hargai, ini malah orang Belanda yang lebih menghargai bangsa kita," sindirnya kepada guru-guru yang ada di ruangan itu.

Asrama Tan Malaka Menjadi Asrama Polisi

Kepala SMA Negeri 2 Bukittinggi Muslim mengatakan kepada Harry Poeze, ia sendiri tidak tahu sejarah sekolahnya. Harry tersenyum mendengarnya. Budi Fitriza, guru sejarah sekolah itu malah bercerita, pernah memberi tugas kepada siswanya untuk menuliskan sejarah sekolah itu, dan siswanya membuat laporan berdasarkan bahan di internet.

"Beri alamat email Anda, nanti saya kirimkan foto-foto sekolah ini dan sejarahnya dari Belanda, sekolah ini pantas ditukar namanya menjadi Sekolah Tan Malaka," kata Harry.

Dari informasi Kepala Sekolah diketahui, asrama yang pernah ditempati Tan Malaka saat bersekolah dulu masih ada, tapi kini sudah menjadi asrama polisi di belakang sekolah.

"Saya senang, sekolah ini masih tetap berdiri, tidak hancur karena perang dan gempa bumi, padahal sudah satu abad, luar biasa," kata Harry saat kami keluar dari gerbang sekolah.

Kami meneruskan perjalanan ke Payakumbuh sambil memakan kerupuk sanjai, dakak-dakak, dan paniaram, makanan khas Payakumbuh. Harry Poeze mencicipi sepotong paniaram, kue yang terbuat dari tepung beras dan gula aren.

"Rasanya mirip salah satu kue di Belanda," kata pencinta masakan Indonesia ini.

Harry beruntung karena salah satu anak lelakinya punya istri orang Indonesia dan kini tinggal di Surabaya.

"Tiap ke sini saya diundang makan masakan tradisional Indonesia di rumah mereka," katanya.

Perjalanan mengunjungi kampung halaman Tan Malaka bagi Harry Poeze juga seperti menapaki jejaknya sendiri. Saat pertama kali berkunjung, pada 1976 ia datang bersama istrinyam Henny Poeze untuk memulai penelitiannya ke kampung Tan Malaka.

"Waktu itu saat sampai di Suliki, sekitar 10 km dari Pandan Gadang, kami bertemu dua serdadu dan melarang kami ke Pandan Gadang, serdadu itu mengatakan desa itu terlarang dimasuki, tetapi saya dan Henny berpura-pura menjadi turis biasa yang tidak tahu bahasa Indonesia, akhirnya kami berhasil ke Pandan Gadang," kenang Harry.

Di rumah Tan Malaka ia bertemu dengan keponakan Tan Malaka yang menempati rumah tua itu. Di kampung itu ia menggali masa kecil Tan Malaka dengan penduduk yang masih mengenal tokoh itu.

Jejak Tan Malaka di 6 Benua

"Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat menarik, saya harus melintasi 6 benua untuk mencari jejak sejarahnya, jejaknya ada di mana-mana," kata Harry memberi alasan ketertarikannya kepada Tan Malaka.

Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk meneliti Tan Malaka. Termasuk 10 tahun untuk menulis buku Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 yang diluncurkan Juli tahun lalu dalam bahasa Belanda.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia saat ini masih diterjemahkan dibagi dalam 6 jilid. Jilid pertama menurut Harry direncanakan akan terbit tahun ini.

Dari Payakumbuh, kami melewati Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota. Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang.

Keluar dari Kota Payakumbuh, pemandangan pedalaman Ranah Minang yang asri mulai terhampar di depan mata. Roger Tol tak berhenti berdecak kagum. Pemandangan yang kami lewati memang amat menawan, lembah dengan sawah yang menghijau terbentang di kaki bukit, dipagari pohon-pohon kelapa. Di belakangnya berlapis-lapis bukit hijau dan biru menjadi latar yang indah ditambah dengan langit berawan putih di atasnya.

"Ini seperti sorga, kenapa Tan Malaka meninggalkan tempat seindah ini?" kata Roger Tol kepada Harry.

Harry tersenyum memandang ke luar jendela. "Dia kan harus pergi merantau," jawabnya.

Sampai di Pandan Gadang kami disambut keluarga besar Tan Malaka yang mengenakan pakaian adat. Henri, seorang keluarga keturunan Tan Malaka dari garis ibu kini mewarisi gelar Datuk Tan Malaka yang menambah panjang namanya menjadi Henri Datuk Tan Malaka. Ia mengenakan pakaian datuk kuning terang.

Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis ‘Tan Malaka'. Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.

Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, dan berair jernih. Di depan rumah menjulang bukit yang hijau ditumbuhi pohon dan perdu.

Acara Tanpa Bantuan Pemerintah

Untuk memperingati kematian Tan Malaka, keluarga besarnya menggelar tahlilan selama satu jam. Keluarga besar Tan Malaka, KITLV dan Pusbitdem (Pusat Studi Penerbit dan Pustaka Demokrasi) menggelar acara ini tanpa bantuan pemerintah. Sehari sebelumnya, mereka juga menggelar seminar di Bukittinggi tentang Tan Malaka.

"Kita mencoba menanam benih, mudah-mudahan ini tumbuh besar," kata Asmun A. Sjueib, ketua panitia.

Diawali dengan pantun petatah petitih Minangkabau dan irama talempong, museum sederhana itu diresmikan oleh Direktur Nilai Sejarah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Magdalia Alfian.

Enam bulan lalu rumah ini masih dihuni Indra Ibnur Ikatama dan keluarganya. Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka.

Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin. Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah.

Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.

"Rumah ini dibangun sejak 1826, namun Tan Malaka lahir di rumah surau yang kini sudah menjadi sawah, saat dia diangkat menjadi datuk, baru dibawa ke rumah ini," kata Ani Zarni salah seorang keluarga Tan Malaka.

Harry Poeze disambut bak teman lama keluarga. Semua keluarga Tan Malaka sudah mengenalnya. Ia menyerahkan bukunya yang beratnya 5 kilogram itu untuk koleksi pustaka.

"Pak Harry sering ke rumah saya di Jakarta, dan tiap kali makan masakan Minang selalu minta catatkan resepnya,resep rendang, resep pangek ikan, pokoknya apa saja yang baru saya disuruh catat," kata Anna Yuliar, adik Ani Zarni.

Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ruang tamu dan ruang keluarga terlihat sudah menyatu tanpa sekat. Di dalamnya kini ada lemari kaca yang menyimpan buku-buku Tan Malaka dan buku-buku yang membahas Tan Malaka. Koleksi lainnya adalah baju Tan Malaka saat menjadi datuk, piringan hitam dan pemutarnya, tempat tidur dan foto-foto Tan Malaka.

Menurut Ani Zarni, pada masa pemberontakan PRRI, rumah gadang ini pernah menjadi dapur umum untuk pejuang PRRI.

"Saya masih ingat saat itu berumur 10 tahun, kami lari ke bukit dan saya dipaksa menembakkan senapan dari atas bukit," kata Ani Zarni.

Buku-bukunya Dibakar

Dimasa itulah buku-buku dan barang pribadi Tan Malaka terpaksa banyak yang dibakar, untuk menghilangkan jejak agar tidak disangka pemberontak.

Untuk memastikan kematian Tan Malaka, keluarga Tan Malaka sudah sepenuhnya menyerahkannya kepada Harry Poeze untuk mengurusnya.

"Tahun lalu saya sudah tanyakan tentang kemungkinan pembongkaran kuburan yang kita duga kuburan Tan Malaka, dan pihak keluarga sudah setuju, Menteri membentuk tim, tapi sampai kini masih belum ada penyelesaian," kata Harry.

Sejarawan Mestika Zed yang ikut dalam rombongan, mengaku terkesan melihat rumah Tan Malaka karena ini kedatangannya yang pertama.

"Saya termasuk orang yang kelam jalan ke sini, dan tempat ini sangat indah, sebuah lembah yang punya ruangan yang sangat sehat dan lingkungan yang jarang didapat, saya terkesan dengan lingkungan ini, tapi juga punya korelasi dengan si tokoh dalam arti memberikan inspirasi untuk seorang tokoh, saya kira lingkungan seperti ini akan melahirkan generasi yang sehat karena lingkungannya enak," katanya.

Lewat tengah hari kami pulang. Harry mengaku senang sekali karena rumah Tan Malaka kini sudah dijadikan museum.

"Berarti ada kemajuan dan lebih mudah mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Tan Malaka," katanya.

Dalam perjalanan pulang beberapa kali ia minta berhenti dan memotret kampung halaman Tan Malaka yang indah itu. (ditulis oleh febrianti di padang kini online)

Posted in | 0 komentar

Sang Penggerak Kemerdekaan 45

Tan Malaka

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 - wafat Jawa Timur, 21 Februari 1949) dia adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

Tokoh ini juga adalah orang yang mendalangi terjadinya pergolakan sosial di wilayah Surakarta setelah pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang berakibat hilangnya status Daerah Istimewa bagi bekas wilayah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunagaran.

Riwayat Tan Malaka

  • Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.

  • Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

  • Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik

  • Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.

  • Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.

  • Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Perjuangan Tan Malaka

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."

Pena Tan Malaka

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Dari Pendjara ke Pendjara

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan b

agaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan

Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Pahlawan

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatua

n Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perju

angan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Tan Malaka dalam fiksi

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia

Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.

Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).


Catatan Sang Penggerak Kemerdekaan RI



Posted in Label: | 0 komentar

The Founding Father Of Soekarno

Pertengahan tahun 50-an Soekarno dianggap penyambung suara Dunia Ketiga. Ia dielu-elukan sebagai pemimpin handal baik di Barat maupun Timur. Namun, perjuangan Soekarno melawan imperialisme, politik konfrontasi dan minatnya terhadap komunisme Cina membuatnya terasing.

‘Bawahan Belanda dan tidak akan pernah duduk sejajar dengan penjajahnya’. Demikian julukan yang kerap diberikan ke Soekarno dan jutaan rakyat Indonesia. Cap warga kelas dua membuat Soekarno dan kaum terpelajar bangkit melawan kolonialisme. Setelah studi insinyur di Technische Hogeschool Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung), ia memimpin gerakan nasionalis non-kooperatif (Non-Ko) dan menolak bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Soekarno langsung menjadi batu sandungan dan memulai konflik dengan otoritas Hindia Belanda.

Soekarno tampil di ajang politik internasional dan definitif mencampakkan stempel warga kelas dua. Ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta ditemani rekan seperjuangannya Mohammad Hatta. Sehari sesudahnya, duet Soekarno-Hatta menjabat presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Menurut Undang Undang Dasar 1945, Soekarno – sesuai dengan sistem presidensial – adalah kepala pemerintahan merangkap kepala negara. Dibarengi perjuangan pelik, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia. Negara federasi Republik Indonesia Serikat dibentuk pada 27 Desember 1949 dan dihapus 17 Agustus 1950, kendati sistem parlementer tetap dipertahankan. Presiden adalah kepala pemerintahan dan tidak hanya memiliki fungsi simbolis atau seremonial.

Butir “pembatasan fungsi presiden” menjadi ganjalan Soekarno. Ia melancarkan strategi baru. Soekarno berupaya memperjuangkan kemerdekaan Irian (Barat), tema yang tidak disebut dalam penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Menurutnya, kedaulatan Indonesia tidak lengkap tanpa pembebasan Irian Barat dari cengkeraman penjajah Belanda. Secara tidak langsung, Soekarno memulai “perang suci” melawan neo-kolonialisme dan sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin politik Indonesia.

Maskot Dunia Ketiga

Sewaktu Konferensi Asia Afrika di Bandung, ia mendapat kesempatan untuk tampil di forum internasional sebagai sosok anti neo-kolonialisme. Soekarno sadar akan kekhawatiran Amerika terhadap KAA. Ia sengaja membuka KAA pada 18 April 1955, paralel dengan 18 April 1775 saat perajin perak Paul Revere bergegas dari Boston ke Concord memperingatkan kaum revolusioner di Amerika terhadap bahaya Britania. Perjalanan Revere diabadikan oleh penyair H.W. Longfellow dalam sajaknya Tales of the Wayside. Soekarno mengutip sajak Longfellow dalam pidato pembukaan KAA dan secara frontal menyerang neo-kolonialisme:

A cry of defiance and of fear
A voice in the darkness, a knock on the door
And a word that shall echo ever more

Yes, it shall echo ever more, just as the other anti-colonial words, which gave us comfort and assurance during the darkest days of our struggle, shall echo ever more. What can we do? We can mobilise all the spiritual, all the political strength of Asia and Africa. Yes, we the people of Asia and Africa, one billion, four hundred million strong, far more than half the population of the world!

KAA menarik perhatian dunia karena semasa Perang Dingin hanya forum ini yang memberikan “suara lain” Dunia Ketiga. KAA memberi kesan mendalam, baik di Barat maupun Timur dan menumbuhkan rasa percaya diri bagi negara-negara Dunia Ketiga. Nama-nama peserta KAA menghiasi halaman depan surat kabar terkemuka dunia: Zhou Enlai, Nehru, Nasser, Norodom Sihanouk dan Raja Faisal asal Saudi Arabia. Popularitas Soekarno – inisiator dan tuan rumah KAA – melesat dan ia menjadi maskot Dunia Ketiga. Seusai KAA, undangan kunjungan kenegaraan mengalir ke alamat Soekarno.

Entertainer sejati

Soekarno memutuskan untuk mengadakan perjalanan diplomatik keliling pada 1956. Kunjungan pertamanya dimulai Mei di Amerika Serikat. Dalam pidatonya di Kongres – diselingi tidak kurang 28 kali tepuk tangan – Soekarno mengambil hati publik dengan pengetahuannya tentang perjuangan kemerdekaan Amerika. Di Gedung Putih, ia berkenalan dengan The Eisenhowers yang memberikan cendera mata replika piring perak buatan Revere. Usai tickertape-parade di New York, Soekarno beserta delegasi bertolak 7 Juni ke Kanada. Soekarno melakukan wawancara dengan sebuah radio setempat dalam bahasa Perancis.

Eropa adalah agenda selanjutnya. Italia berada di urutan pertama. Pada resepsi di taman Istana Kepresidenan Quirina, Soekarno menunjukkan kebolehannya sebagai penghibur. Ketika Presiden Gonchi dan ajudannya meninggalkan lokasi, Soekarno mengajari tamu-tamu lainnya tarian Indonesia. Ia sengaja berimprovisasi dan “memaksa” tokoh-tokoh prominen Roma – diantaranya wanita bangsawan dan rohaniwan – bertekuk lutut. Sehari sesudahnya, Soekarno mengadakan audiensi formal ke Paus Pius XII di Vatikan.

Kunjungan Soekarno dilanjutkan ke Republik Federal Jerman. Ia disambut oleh Presiden Heuss dan Kanselir Konrad Adenauer pada 18 Juni 1956 di Bonn. Soekarno memperlihatkan intelektualitas dan kepiawaiannya berbahasa asing. Di Universitas Heidelberg pada 22 Juni 1956 ia memberikan pidato dalam bahasa Jerman. Orasinya sarat dengan tema-tema filosofis Hegel. Setelah perjalanan singkat ke Swiss, Soekarno dan rombongan kembali ke Indonesia.

Pengaruh Mao

Akhir Agustus, Soekarno melanjutkan kunjungan kelilingnya. Rombongannya membengkak menjadi hampir 50 orang. Di bandara Moskwa, rombongan Soekarno sudah ditunggu oleh anggota lengkap Politbiro Rusia. Cendera mata Rusia lebih fenomenal ketimbang replika perak Eisenhower. Soekarno mendapat pesawat Ilyushin. Pembicaraan seputar perdagangan dilakukan 4 September di Kremlin. Uni Soviet menjanjikan bantuan pinjaman sebesar 100 juta dolar. Delegasi Indonesia menandatangani komunike seputar landasan politik luar negeri yang sejalan. Soekarno secara tidak langsung mendapat rekan baru dalam memperjuangkan Irian.

Dari Moskwa, delegasi Soekarno menuju Yugoslavia. Tuan rumah Tito dianggap “anak aneh” negara komunis. Tito sendiri acapkali menegaskan negaranya bukan blok Soviet, melainkan termasuk Dunia Ketiga. Soekarno berdialog dengan Tito mengenai kemungkinan konferensi lanjutan di Bandung. Belakangan, pembicaraan itu disebut pemicu Tito untuk mengadakan konferensi serupa di Beograd.

Lawatan Soekarno ke Austria lebih berkarakter turisme dan intermezzo. Ia menikmati Istana Schönbrunn, opera dan kereta kuda khas Wina. Namun, Soekarno tidak hadir di konferensi pers sesudahnya. Ia menjadi bulan-bulanan media setempat. Apalagi, tanpa memperdulikan wartawan yang sudah menunggu, ia justru terlihat asyik dengan tamu-tamu wanita di Hotel Ambassador.

Setelah perjalanannya ke Cekoslowakia dan Mongolia, Soekarno dan rombongan menginjakkan kaki pada 30 September 1956 di Cina. Soekarno berjalan bergandengan dengan Mao dan disambut meriah di Lapangan Tiananmen. Di Shanghai, Soekarno menekankan esensi comrades-in-arm. Pernyataan yang di kemudian hari ditanggapi dengan kernyitan dahi negara Barat. Soekarno menyebut Cina sebagai negara panutan dan inspirasi bagi Indonesia. Soekarno melihat potensi Asia di bawah satu partai dan satu pemimpin menuju masyarakat adil dan makmur. Bahkan, akhir 1956 Mao menyerukan Soekarno untuk “mengubur” partai-partai yang ada di Indonesia.

Gelombang kekacauan

Soekarno puas dengan lawatan dunianya dan sambutan beragam kepala negara. Ia membuat program kunjungan luar negeri setiap tahun. Sayang, selama Soekarno absen, politik dalam negeri juga bergolak dan kesatuan Indonesia mulai terancam. Gerakan separatis di Sumatera dan Sulawesi Selatan ingin memisahkan diri dari Indonesia. Wapres Hatta sebenarnya memberi sedikit kesempatan, namun Soekarno memilih “garis keras” dan menunjuk Jenderal Nasution untuk menuntaskan gerakan tersebut. Selanjutnya, Nasution menjadi tokoh militer kepercayaan Soekarno.

Nasution “meredam” pertikaian dua kubu antara pro-sekuler dan pro-negara Islam. Perundingan sengit mengenai penyesuaian konstitusi mengalami jalan buntu selama 3 tahun. Nasution memanggil Soekarno yang sedang melawat ke Jepang segera kembali ke Indonesia. Akhirnya, 5 Juli 1959 Soekarno memutuskan untuk tetap memakai UUD 1945, meski ia harus jeli berada di antara partai komunis yang berkuasa dan militer anti komunis.

Soekarno bukan penganut Marxis ortodoks. Semasa studinya ia telah memperkenalkan konsep Marhaenisme. Marhaens adalah petani kecil, pengrajin dan pedagang – atau 90% rakyat Indonesia. Kelompok ini menjadi basis Partai Komunis Indonesia. PKI menjadi partai komunis terbesar di luar Soviet dan Cina. Indonesia dan pemimpinnya dihormati negara-negara komunis dan mulai diperhitungkan oleh negara-negara Barat. Soekarno “merangkul” komunisme Indonesia, tetapi ia harus tetap sepaham dengan pimpinan militer Nasution.

September 1960 Soekarno menghadiri Sidang Umum PBB ke-15. Dalam pidatonya ia mengungkap visinya mengenai pembagian peta dunia. Menurut Soekarno, imperialisme memiliki dua kubu: negara-negara imperialis lama atau Old Established Forces dan New Emerging Forces atau negara-negara baru, terutama yang beraliran komunis progresif. Ia menciptakan akronim ‘oldefo’ dan ‘nefo’. Setahun kemudian, di Konferensi Beograd – diprakarsai oleh Tito dan Nasser – Soekarno kembali menegaskan konsepnya mengenai nefo dan oldefo. Namun, gagasan Soekarno sempat dipertanyakan dalam konferensi tersebut. Terutama Nehru, presiden India, justru menekankan status non-aligned Dunia Ketiga dan musnahnya imperialisme. Visi Soekarno dianggap kontroversial dan membuatnya terasing.

Perjuangan Soekarno menentang oldefo diterjemahkan ke diplomasi konfrontasi, terutama seputar kemerdekaan Irian. Untuk keempat kalinya, resolusi PBB mengenai pengalihan kekuasaan Irian ke Indonesia pada 29 November 1957 tidak memenuhi syarat 75% suara. Akibatnya, semua perusahaan Belanda di Jakarta dinasionalisasi oleh Soekarno dan ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda pada 1960. Ia membentuk satuan militer untuk merebut Irian di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Lawatan internasional Soekarno selanjutnya berfungsi untuk mengumpulkan senjata dan munisi – sekaligus membuktikan idenya mengenai oldefo dan nefo.

April 1961, Soekarno berkunjung ke Washington. Kennedy, pengganti Eisenhower, paham akan situasi Irian, namun memperingatkan Soekarno untuk tidak menggunakan kekerasan. Soekarno secara diplomatis menjawab, “Saya tidak bisa membendung keinginan rakyat. Bantu saya untuk mencapai keinginan mereka.” Kennedy memulai diplomasi ofensif ke Belanda untuk menyerahkan Irian ke Indonesia. Setelah perundingan alot dan masa transisi, akhirnya – masih disebut tamparan keras hingga kini – Belanda resmi mengembalikan Irian ke Indonesia pada 16 Agustus 1962 melalui perjanjian yang ditandatangani di Washington. Invasi militer pimpinan Soeharto di Irian dapat dielakkan.

Kemerdekaan Irian adalah puncak perjalanan karir Soekarno. Ia spontan disebut “presiden seumur hidup”, meski konflik lain sudah menunggu. Kabinet MacMillen di Britania ingin membentuk Federasi Malaysia di Asia Tenggara, termasuk sebagian wilayah Borneo. Soekarno menentang rencana MacMillen dan melancarkan aksi ‘Ganyang Malaysia’. Soekarno tetap memilih diplomasi konfrontasi dan mengancam dengan aksi militer. Britania tetap bersikeras dengan rencana Federasi Malaysia.

Presiden Johnson, penerus Kennedy, masih disibukkan dengan masalah Vietnam dan ia perlu dukungan MacMillen. Johnson tidak perduli dan menjatuhkan Soekarno. Soekarno memulai infiltrasi militer di Malaysia. Britania dan beberapa anggota negara Persemakmuran dengan mudah membendung serangan militer Indonesia. Aksi Soekarno dikecam dunia internasional dan Indonesia semakin terisolasi. Belanda melihat potensi ekonomi Indonesia di Asia Tenggara dan memilih bersikap netral seputar konflik Indonesia dengan Malaysia.

Hubungan diplomatik Belanda-Indonesia berangsur-angsur pulih. Politisi dan penanam modal Belanda mulai melirik Indonesia lagi. Kontrak menguntungkan ditandatangani. Soekarno ingin mengadakan kunjungan kenegaraan ke Belanda. Kabinet Belanda memberikan lampu hijau, namun bagaimana dengan Ratu Juliana? Juliana mengirim utusan ke Indonesia untuk “menyelidiki” Soekarno, terutama reputasi protokolernya. Soekarno terkenal flamboyan dan media Jerman bahkan menjulukinya ‘presiden dan pelanggan bordil di seluruh dunia’. Kabinet Belanda dapat meyakinkan Ratu Juliana untuk menerima Soekarno, sebagai pembuka jalan kunjungan balasan ke Indonesia.

Megaloman

Soekarno makin condong ke pemikiran komunisme. Ia menjalin hubungan baik dengan Tiongkok. Mao dan tangan kanannya, Zhou Enlai, mendukung sepenuhnya Soekarno sewaktu konflik dengan Malaysia. Mao dan Zhou juga setuju dengan rencana ambisius Soekarno membentuk Conference of the New Emerging Forces, CONEFO, sebagai alternatif PBB. Sayang, Soekarno termakan ambisinya dan menyatakan tidak membutuhkan negara-negara maju lainnya. Pada 25 Maret 1964 ia vokal menyerukan ‘Go to hell with your aid’. Senator Bich Bayn membalas, pembayar pajak di Amerika tidak perlu lagi membantu seorang pemimpin ‘who is arrogant, insulting, incompetent and instable’. Pernyataan Bayn lengkap mewakili kesan negara-negara maju terhadap Soekarno.

Politik dalam negeri pun mulai mengarah ke komunisme. Soekarno menyetujui permohonan pimpinan PKI untuk mempersenjatai buruh dan petani seperti di Cina. Namun, militer menolak mentah usul tersebut. Soekarno mengambil jarak dengan militer setelah pidato kenegaraan pada peringatan proklamasi 17 Agustus 1965. Selain itu, ia siap membantu Cina dengan poros Jakarta-Pnomh Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang untuk memberantas perang ideologi dengan Rusia. Ia melihat kesempatan realisasi CONEFO yang terdiri dari kumpulan negara-negara Asia tersebut. Soekarno menambahkan, ia tidak segan menggunakan senjata nuklir. Mei 1965, Cina berhasil melakukan eksperimen kedua dengan bom atom. Presiden Indonesia berubah menjadi ancaman serius perdamaian dunia.

Sepanjang 1965, pimpinan militer Indonesia dan CIA telah berdialog mengenai kemungkinan “pembebasan” Indonesia dari komunisme setelah jatuhnya Soekarno. Apalagi, Soekarno sempat terkena serangan jantung ringan pada 8 Agustus 1965. Pembicaraan masih berlangsung, Indonesia dikejutkan dengan kudeta beberapa tokoh PKI pada 1 Oktober 1965 yang menelan nyawa 6 jenderal. Percobaan makar tersebut dapat digagalkan dalam kurun waktu satu hari di bawah pimpinan Soeharto. Ia yakin, pihak komunis berada di balik makar dan pembunuhan 6 jenderal. Soeharto menyerukan penangkapan seluruh pengikut komunis. Sekitar 500 ribu dan satu juta pengikut PKI tewas dalam pertumpahan darah itu.

Soekarno menyebut peristiwa tragis dan hilangnya nyawa enam jenderal ‘hanya riak di lautan revolusi Indonesia’. Posisinya makin terjepit. Jenderal Soeharto menolak pemakzulan Soekarno melalui parlemen. Ia mengurangi wewenang Soekarno secara bertahap dan membuat “karantina politik”. Soeharto terpilih sebagai presiden pada 10 Maret 1968. Ia menggantikan ‘presiden seumur hidup Soekarno’. Sewaktu Soekarno secara formal masih menjabat presiden, Soeharto membuat kebijakan radikal. Ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Cina dan memperbaiki kontak dengan negara-negara maju. IGGI, Intergovernmental Group on Indonesia, sepakat dibentuk di bawah pimpinan Belanda. Soeharto dengan bantuan dana IGGI berhasil mendongkrak ekonomi dan membangun Indonesia melalui program Repelita.

Soekarno wafat 21 Juni 1969. Bung Karno, pemimpin karismatik menghembuskan nafas terakhir sebagai tahanan politik tanpa mahkota. Setelah kematiannya, popularitas Soekarno belum pudar. Ia dipuji, tetapi juga dicaci dan dicampakkan. Ia disucikan, dikultuskan dan banyak yang berusaha merahibilitasi nama baiknya. Jatuhnya Soeharto banyak yang membandingkan dengan kebangkitan Soekarno. Terlebih lagi, Megawati Soekarnoputri sempat menjadi presiden ke-5 Republik Indonesia. Gaung Soekarno masih terdengar. Bung Karno tetap Bapak Proklamator, Bapak Bangsa dan figur pemimpin dunia. (di tulis oleh Jaap - Amsterdam di .kompas.com)

Posted in | 0 komentar

Mengenal Sosok Tan Malaka

Tan Malaka yang ditembak mati tanggal 21 Februari 1949. Selama ini kematian Pahlawan Nasional Tan Malaka itu masih menjadi misteri sejak lebih dari setengah abad.

"Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya, yang terakhir berpangkat brigadir jenderal dan pernah menjadi Wali Kota Surabaya. Data tersebut diperoleh dari kesaksian pelbagai pihak, seperti rekan gerilya Tan Malaka, anggota Batalyon Sikatan, keterangan warga desa dan tokoh-tokoh angkatan 1945," kata Poeze yang memulai riset Tan Malaka sejak tahun 1980 dengan menemui banyak tokoh nasional.

Harry Poeze yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menambahkan, Tan Malaka ditembak di Desa Selo Panggung di kaki Gunung Wilis di Jawa Timur. Eksekusi yang terjadi selepas agresi militer Belanda ke-2 itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan komandan brigade-nya, Soerahmat.

Petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas. Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan
Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje.

Sebelum ditangkap, Tan Malaka memimpin gerilya melawan Belanda di Desa Belimbing. Dia juga mengimbau seluruh rakyat melakukan perjuangan semesta melawan Belanda, seperti yang dilakukan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Tan Malaka, yang pada bulan September 1945 pernah disiapkan Bung Karno untuk memimpin Indonesia jika Proklamator mengalami bahaya sehingga tidak mampu bertugas, sempat lolos dari tahanan bersama 50 gerilya anti-Belanda yang dipimpinnya. Namun, Tan Malaka yang berpisah dan bergerak dalam rombongan kecil berjumlah enam orang ditangkap Letnan
Dua Soekotjo di Desa Selo Panggung yang berakhir dengan eksekusi.

Menurut Poeze, Menteri Sosial Republik Indonesia sudah setuju untuk mengerahkan tim forensik mencari sisa jenazah Tan Malaka. Tan Malaka sempat dijuluki "Bapak Repoebliek Indonesia" selepas medio 1920-an karena menerbitkan buku Naar Repoebliek Indonesia (Menuju Repoebliek Indonesia) dalam Bahasa Belada dan Melayu tahun 1924 di Kanton (sekarang Guangzhou), China. Diketahui, ratusan jilid buku tersebut diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima para tokoh pergerakan, termasuk pemuda Soekarno. Walhasil, Tan Malaka pun dikenal sebagai Bapak Repoebliek Indonesia jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. (amir castro)

Posted in | 1 komentar

Sang Pejuang Yang Disingkirkan Negara

Sosok Tan Yang Mahir Dalam Revolusi

Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia.

Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya ”seorang yang mahir dalam revolusi”. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Ia seorang yang telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.


ORDE Baru telah melabur hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Musso—orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai—ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama—salah satunya Tan—apabila Soekarno dan Hatta mati atau ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: ”...jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka.”

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, di kampung halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.

Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.

W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk ”Khayal Seorang Revolusioner”. Di situ Tan antara lain menulis, ”Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.”

Di seputar Proklamasi, Tan meno-rehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan ”masih sebatas catatan di atas kertas”. Tan menulis aksi itu ”uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”. Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan, misalnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakaian. Dan sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer—dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.


Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? Di buku Dari Penjara ke Penjara II, Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hong Kong. ”Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,” ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hong Kong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 sentimeter, lebih pendek daripada Soekarno (172 sentimeter). Dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan yang berjalan berdampingan dengan Soekarno. Tan terbukti berada di lapangan itu dan menggerakkan pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, Tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu, nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan arus dalam kongres Komunisme Internasional di Moskow pada 1922. Ia mengungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. ”Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak,” tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin partai. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. Jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, ”Di depan Tuhan saya seorang muslim” (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya dari bumi Indonesia.

Berpuluh tahun namanya absen dari buku-buku sejarah; dua-tiga generasi di antara kita mungkin hanya mengenal samar-samar tokoh ini. Dan kini, ketika negeri ini genap 63 tahun, majalah ini mencoba melawan lupa yang lahir dari aneka keputusan politik itu, dan mencoba mengungkai kembali riwayat kemahiran orang revolusioner ini. Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak bangsa yang lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan lainnya. (dikutip dari ; http://www.tempointeraktif.com)

Posted in | 3 komentar